Selasa, 12 November 2013

the real goodbye!

6.11.2013
hari itu untuk pertama kalinya aku naik bus ke blitar. deg degan. jarang ada angkutan di sana, akan susah jika tersesat di jalan.
sekitar jam 11 aku sampai di rumah sakit. terlihat kondisi eyang yang memang melemah, tapi beliau masih sanggup menyapa dan tersenyum padaku.
yap. hari itu untuk pertama kalinya aku akan menemani eyangku di rumah sakit. waktu itu aku bersama bulikku. keadaan masih baik-baik saja. hingga entah kenapa eyangku tertidur dan tak kunjung terbangun. sempat kaget, namun kami merasa lega ketika kami melihat dada eyangku bergerak naik turun. beliau masih ada. hingga pukul 10 malam, ketika kami selesai makan dan akan bersiap-siap untuk tidur. kami merasa khawatir karena eyang tak kunjung membuka mata dari sore. aku memegang keningnya. panas. panik, aku memanggil perawat dan bulikku terus-menerus membisikkan kalimat Allah. bukannya kami pesimis, tetapi melihat kondisi eyangku pada saat itu, selalu terpikirkan bahwa sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.
mulai saat itu, eyangku menggunakan alat bantu pernafasan dan perawat memberikan obat penurun panas untuk menurunkan demamnya.
malam itu, kami berdua melewati malam yang tidak tenang dan terus berdoa agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

7.11.2013
malam telah berganti pagi. alhamdulillan kondisi eyangku sedikit membaik. panasnya mulai menurun dan beliau sidah dapat menggerakkan tangan sedikit dan dapat membuka sedikit kelopak matanya.
hari itu, mulai dipasang alat makan pada nenekku. makanan dimasukkan langsung ke dalam labungan melalui selang yang dimasukkan melewati hidung dan langsung menuju lambungnya. rasanya tidak tega melihat eyangku tergeletak tak berdaya di atas kasur. terpejam, tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun. huft.. diam-diam air mataku turun. berharap ada orang lain yang mau menggantikanku untuk menjaga eyangku dan menemani bulikku menjaga beliau. bukan tidak mau, hanya tidak tega melihat kondisinya yang seperti itu.
demamnya tidak rata hari ini. kepala selalu panas, namun badan dan kakinya seperti tidak sinkron lagi. kadang badan yang panas, kaki yang dingin. terkadang kaki yang panas badan yang dingin.
melihat kondisinya yang seperti itu, semakin tidak tega rasanya. tapi lebih tidak tega lagi jika meninggalkan bulikku sendirian menemani nenekku. terlihat luka yang mendalam dari wajahnya. tangis yang terus dibendungnya. setidaknya aku dapat menghiburnya sedikit di sana, walaupun keberadaanku tidak berarti banyak di situ. aku berharap yang ada di situ adalah anak-anak nenekku yang lain. dari sembilan, kenapa hanya satu yang selalu ada. aku sungguh terheran-heran kemana yang lainnya pergi. termasuk mamaku.
malamnya, panasnya menjadi tinggi lagi. kami panik (lagi). perawat sepertinya sudah tidak berharap terlalu banyak dengan kondisi eyangku. mengingat usianya yang sudah sepuh dan penyakit yang dideritanya.
malam yang panjang kami lalui lagi. rangkaian doa dan alunan al-quran selalu ada.

8.11.2013
tidak terlalu ada kemajuan pada hari itu. dan hari ini aku akan pulang dan akan kembali lagi mungkin pada minggu sore atau senin pagi. aku berniatan untuk pulang pada pagi hari, tetapi aku tidak tega meninggalkan bulikku sendirian di sana. aku menunggu hingga sore, saat itu bulikku yang lain akan datang dan menemani bulikku menjaga eyang.
sudah pukul 3 sore. saat itu aku akan bersiap-siap pulang. ketika tiba-tiba desahan nafas eyangku, yang biasanya terdengar sangat keras, tiba-tiba menghilang. panik, kami segera melihat kondisi eyangku. sekujur tubuhnya panas. nafasnya mulai menghilang. aku segera memanggil perawat. bulikku menuntunkan kalimat syahadat dan terus menerus melantunkan asma Allah di telinga nenekku sambil menangis.
aku tidak tau harus berbuat apa. ah.. aku belum siap untuk menyaksikan hal-hal seperti ini. sungguh takut. aku tak berani melihat apapun. aku hanya duduk di balik tirai dan menangis, menelepon siapapun yang bisa aku hubungi.
hingga pada pukul 15.15 perawat menyatakan bahwa eyangku telah tiada. beliau telah pergi. tangisan kami berdua semakin keras. kami berdua belum cukup dewasa untuk melihat hal itu. kami hanya berdua, kami seumuran. kami takut. dan pada saat itu tidak ada orang dewasa. ya kami hanya berdua.





entah.. saat itu aku terdasar. peribahasa kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah sepertinya memang benar. ibumu sangat menyayangimu dengan sepenuh hati. apa saja akan dikorbankannya demi anaknya. dan begitulah anak. dia tidak akan sanggup untuk membalas seluruh kebaikan ibu.
bahkan ketika kondisi eyangku yang telah kritis itupun, anak-anaknya, selain bulikku, tidak segera datang dengan alasan keduniaan. sedih rasanya melihat kenyataan itu.
aku tidak tahu aku akan bertindak bagaimana kelak, tapi semoga saja tulisan ini akan mengingatkanku nanti, jika kejadian seperti terulang.


selamat tinggal eyang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar